Senin, 27 Oktober 2025

Menyeberang Dua Jam Menuju Pulau Harapan: Catatan Perjalanan ke Pulau Tam

Posted by on Senin, 27 Oktober 2025

 

Sabtu, 25 Oktober 2025

Setiap perjalanan selalu membawa cerita, tetapi tidak semua meninggalkan kesan mendalam. Perjalanan kali ini — menuju Pulau Tam — terasa istimewa. Ia bukan sekadar perjalanan lintas laut, melainkan perjalanan batin yang mengingatkan saya betapa banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam keterbatasan, namun tetap menyimpan semangat dan harapan besar untuk maju.

Bersama Wakil Wali Kota Tual, Bapak Amir Rumra, M.Si, jajaran Dinas PUPR, dan tim, kami berangkat pagi-pagi sekali menyeberangi laut dengan speed boat. Butuh lebih dari dua jam untuk mencapai Pulau Tam — dua jam yang diwarnai percakapan ringan, hembusan angin asin, dan birunya laut yang seolah tak berujung.

Begitu menjejakkan kaki di Pulau Tam, perjalanan kami berlanjut dengan gerobak motor, satu-satunya kendaraan yang mampu melewati jalanan bergelombang menuju lokasi rencana pembangunan dermaga feri. Getarannya keras, tapi tawa warga yang menyertai perjalanan itu membuat suasana terasa hangat.

Sesampainya di lokasi, masyarakat menyambut kami dengan penuh keramahan dan harapan. Mereka bercerita dengan jujur tentang kesulitan yang mereka hadapi — kapal feri yang tidak bisa bersandar ke daratan, warga yang harus menumpang perahu kecil untuk menjemput atau mengantar penumpang dan barang, serta risiko besar yang muncul saat ombak tinggi datang.

“Kami sangat berharap pembangunan dermaga ini bisa terwujud, Ibu. Agar kami bisa hidup lebih aman, hasil melaut mudah dijual, dan ekonomi masyarakat berputar,” tutur seorang warga dengan nada yang penuh harap.

Mendengar itu, saya terdiam sejenak. Di tengah segala kesederhanaan mereka, ada semangat luar biasa untuk bertahan dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Saya sadar, pembangunan dermaga ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Ia adalah jembatan harapan — agar konektivitas antarwilayah semakin mudah, agar hasil laut bisa tersalurkan lebih cepat, dan agar kesejahteraan benar-benar dirasakan oleh mereka yang tinggal jauh di pelosok negeri.

Ketika senja mulai turun, dan perahu kami kembali menembus laut untuk pulang, saya menatap Pulau Tam yang perlahan menjauh. Di balik debur ombak dan langit yang mulai temaram, saya membawa pulang pesan yang begitu kuat:
bahwa pembangunan sejati bukan hanya tentang beton dan baja, tetapi tentang mewujudkan harapan dan membuka jalan bagi kehidupan yang lebih layak.

Pulau Tam mengajarkan saya satu hal penting — bahwa di setiap sudut negeri ini, selalu ada harapan yang menunggu untuk dijemput. Dan selama kita mau mendengar, mendekat, dan bekerja dengan hati, harapan itu akan menemukan jalannya.


0 comments:

Posting Komentar

Copyright © 2024 PKS Batu Ampar All Rights Reserved.
back to top