Jumat, 27 Desember 2024

Wilayah Batu Ampar, kramat Jati

 




Batu Ampar adalah sebuah kelurahan yang terletak di kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Kelurahan Batu Ampar, Kelurahan Balekambang dan kelurahan kampung Tengah lebih dikenal oleh masyarakat Jakarta dengan sebutan daerah Condet. Batu Ampar memiliki kode pos 13520.

Kelurahan Batu Ampar terletak Jl. Batu Ampar II RT.006 RW.03, Kecamatan Kramat Jati, Kota Administrasi Jakarta Timur. Kelurahan Batu Ampar memiliki Rukun Warga 6, Rukun Tetangga 86, dengan luas wilayah 255 Ha. 

Wilayah Batuy Ampar berbatasan dengan Jalan Raya Condet / Kelurahan Cililitan di sebelah utara, Jalan Raya Condet / Kelurahan Balekambang di sebelah barat, Jalan raya Bogor / Kelurahan Kramat Jati di sebelah timur dan Jalan Inerbang / Kelurahan Kampung Tengah di sebelah selatan.


Sejarah

Ada legenda yang melekat pada nama tempat tersebut sebagaimana diceritakan oleh orang – orang tua di Condet kepada Ran Ramelan, penulis buku kecil berjudul Condet, sebagai berikut. Pada zaman dulu ada sepasang suami istri, namanya Pangeran Geger dan Nyai Polong, memeliki beberapa orang anak. Salah seorang anaknya, perempuan, diberi nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik. Waktu Maemunah sudah dewasa dilamar oleh Pangeran Tenggara atau Tonggara asal Makasar yang tinggal di sebelah timur Condet, untuk salah seorang anaknya, bernama Pangeran Astawana.

Supaya dibangunkan sebuah rumah dan sebuah tempat bersenang – senang di atas empang, dekat kali Ciliwung, yang harus selesai dalam waktu satu malam. Permintaan itu disanggupi dan terbukti, menurut sahibulhikayat, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di sebuah empang di pinggir kali Cliwung, sekaligus dihubungkan dengan jalan yang diampari dengan batu, mulai dari tempat kediaman keluarga Pangeran Tenggara . Demikianlah, menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu selanjutnya disebut Batu Ampar, dan bale (Balai) peristirahatan yang seolah – olah mengambang di atas air kolam dijadikan nama tempat . Balekambang.

Pada awal abad keduapuluh di Batu Ampar terdapat perguruan silat yang dipimpin antara lain oleh Maliki dan Modin (Pusponegoro, 1984, IV:295). Pada tahun 1926, seorang guru silat di Batu Ampar, Saaman, terpilih sebagai salah seorang tenaga pengajar ilmu bela diri itu di Negeri Belanda, selama dua tahun. Tidak mustahil, kemahiran Saaman sebagai pesilat, sehingga terpilih menjadi pengajar di mancanegara itu, adalah kemahiran turun – temurun.

Sumber : Wikipedia

Rabu, 25 Desember 2024

Materi Tarbiyah 2 : Ushulud Da'wah (Prinsip-Prinsip Dakwah)

Materi Tarbiyah 1 : Ushulul Islam (Dasar - Dasar Islam)

Selasa, 24 Desember 2024

Entong Gendut Pahlawan Condet



Entong Gendut lahir di wilayah Condet Jakarta Timur. Ia dikenal sebagai pembela rakyat Condet. Pada abad ke-17, di Batavia telah terbentuk sebuah kota. Tanah yang dikuasai VOC semakin luas, bahkan tanah-tanah yang ada di sekitar benteng di Batavia diperuntukkan perwira dan dan pejabat tinggi VOC, namun justru tanah-tanah tersebut dijual kepada saudagar Cina yang kaya. Tanah-tanah inilah yang kemudian dikenal dengan nama tanah partikelir (Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Prov. DKI Jakarta: 2003: 38). 

Penduduk yang berdiam di atas tanah partikelir diwajibkan untuk mambayar pajak kepada pemilik tanah. Begitu pula dengan para petani yang menyewa tanah diharuskan membayar cuke atau pajak yang ditentukan setiap sepuluh tahun sekali. Selain itu, setiap panen para petani yang menyewa tanahnya harus menyerahkan seperlimanya untuk diserahkan kepada pemilik tanah.

 Pada saat-saat tertentu para petani juga diharuskan untuk kerja di tanah milik tuan tanah tersebut tanpa diberi upah. Atas kesewenang-wenangannya, timbullah perlawanan petani terhadap tuan tanah. Perlawanan petani terhadap tuan tanah bukan hanya terjadi pada masalah pajak, tetapi juga masalah hutang, di antaranya mengadukan petani ke pengadilan karena lalai membayar hutang. Pada 1913, tidak kurang dari 2.000 orang petani yang diajukan ke pengadilan di Mr. Cornelis karena lalai dalam membayar uang sewa tanah dan pekarangan, cuke dan tebusan uang kumpenian.


Condet merupakan salah satu daerah yang ada di Jakarta Timur. Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, Condet merupakan daerah yang dikuasai tuan tanah. Para tuan tanah bermarkas di Kampung Gedang. Seluruh tanah di Condet dari Tanjuug Timur sampai dengan Tanjung Barat dikuasai oleh tuan tanah. 

Waktu itu rakyat diharuskan membayar pajak yang ditagih oleh mandor dan centeng tuan tanah. Besarnya pajak (blasting) sebesar 25 sen yang harus dibayarkan setiap pekan. Peraturan tersebut dinilai sangat berat oleh rakyat dikarenakan harga beras waktu itu sudah mencapai 4 sen/per kg. 

Apabila ada penduduk yang belum membayar, mereka diharuskan kerja paksa, mencangkul sawah atau kebun milik bangsa Belanda, dan apabila ada penduduk yang belum bayar pajak (blasting) orang tersebut tidak boleh memanen hasilnya. Adanya peraturan yang begitu memberatkan tersebut, keresahan pun meningkat pada 1916. Ketika seorang petani yang bernama Taba, penduduk Batu Ampar diajukan ke pengadilan di Mr. Cornelis dan divonis bersalah. 

Rumah Taba kemudian disita dan jual seharga f.4.50. Peristiwa ini menghebohkan masyarakat sekitar. Ketika para pejabat tuan tanah hadir di kediaman Taba untuk menyita dan menjual rumah tersebut, warga sekitar berkerumun di sekitar sambil menghalang-halangi mereka. Peristiwa berkelanjutan yang menimpa para petani akibat ulah tuan tanah tersebut menimbulkan keprihatian kelompok pencak silat di Batu Ampar pimpinan Entong Gendut. Mereka ingin memihak para petani dan mencegah apabila rumah dan tanah petani disita dan dijual, mereka juga membenci para tuan tanah yang hidup berfoya-foya.


Pada 1916, di Condet terdapat seorang tuan bernama Lady Lollinson. Di Villa tersebut sedang diadakan pesta tari Topeng dan kegiatan lainnya. Dengan kejadian tersebut, Entong Gendut bermusyawarah dengan tokoh Condet H. Asmat Wahab dan H. Maliki. Dari hasil musyawarah tersebut, Pada 5 April 1916, sekitar jam sebelas malam, H Entong Gendut beserta tokoh Condet serta mengajak 300 orang pengikutnya menuju kediaman Lady Lollinson di Villa Nova. Mereka menghentikan acara yang diadakan di rumah tersebut. Pesta Tari Topeng dan kegiatan lainnya yang ada di rumah tersebut sengaja dihentikan. Tentu saja perbuatan Entong Gendut membuat amarah para marsose Belanda dan bagi tuan tanah perbuatan Entong Gendut dianggap sebagai pembangkangan.


Akhir Hayat
Tuan tanah tidak dapat menerima atas kejadian yang dilakukan oleh Entong Gendut. Mereka melaporkan ke pihak yang berwajib. Assisten Wedana dan Mantri Polisi mendatangi kediaman Entong Gendut agar Entong Gendut dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pertempuran antara masyarakat Condet pimpinan Entong Gendut dan para marsose Belanda, tidak dapat dihindari. Entong Gendut tertembak Belanda, dan meninggal dunia.

Sumber: berbagai sumber

Sejarah dan Asal-Usul Condet, Dulu Kebun Salak dan dukuh

 


JAKARTA - Mungkin bagi warga asli DKI Jakarta atau orang-orang Betawi sudah tidak asing lagi dengan wilayah Condet. Salah satu daerah yang terletak di Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur, ini pada awalnya terkenal dengan perkebunan duku dan salak, serta tempat bermukimnya orang-orang keturunan Timur Tengah yang datang ke Jakarta.

Namun, kini daerah Condet telah diubah menjadi salah satu cagar budaya dan tempat wisata untuk mengenalkan budaya Betawi. Rupanya daerah Condet merupakan salah satu daerah yang menyimpan sejarah dan cerita asal-usul yang unik dan menarik.

Bagaimana sejarah dan asal-usul nama daerah Condet?

Nama Condet memiliki asal-usul tersendiri, dimana nama tersebut berasal dari anak sungai Ciliwung, yaitu Ci Ondet. Dalam bahasa Sunda Ci memiliki arti sebagai air atau sungai. Sedangkan kata Ondet sendiri berasal dari Ondeh-ondeh, yang merupakan tumbuhan atau pohon buni, yang buahnya dapat dimakan.

Namun, beberapa cerita lain juga menyebutkan bahwa asal-usul nama Condet, berasal dari kehadiran sosok Haji Entong, seorang yang memiliki kesaktian dan memiliki bekas luka di wajah atau disebut Codet. Keberanian Haji Entong dalam melawan penjajah Belanda, menjadikan namanya terkenal.

Jika dikaitkan dengan sejarah masa kolonialisme Belanda. Nama Condet pernah tercantum dalam catatan perjalanan Abraham Van Riebeeck, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Jenderal VOC di Batavia.

Selain itu ada tahun sebelum masa kolonialisme, nama Codet juga pernah disebut dalam surat wasiat yang ditulis oleh Pangeran Purbaya dari Banten. Dalam surat wasiat itu Pangeran Purbaya mewasiatkan beberapa rumah dan sejumlah kerbau pada anak-anak dan istrinya yang berkawasan di Condet.

Bahkan hal menarik dari Condet, sebelum dijadikan pemukiman warga. Pernah ditemukan peninggalan purbakala berupa Kapak, Gurdi, dan Pahatan batu yang diperkirakan dari tahun 1500 SM. Melalui penemuan tersebut menguatkan fakta bahwa Condet merupakan daerah yang sudah ada sejak dahulu.

Jika dulu Condet dikenal dengan wilayah pemukiman masyarakat penghasil buah-buahan seperti duku dan salak. Bahkan jumlah pohon salak di wilayah Condet mencapai 1.656.600 rumpun. Kini wilayah Condet telah berubah menjadi pemukiman warga, tempat wisata, dan pusat cagar budaya Betawi.

Kebudayaan Betawi sangat dikenal melalui wilayah Condet mulai dari sejarah, budaya, dan geografis. Sehingga pada tahun 1974, tepatnya pada tangga; 30 April 1974. Gubernur Ali Sadikin menetapkan Condet sebagai wilayah Pengembangan Kawasan Budaya Betawi. Namun karena kurangnya minat dan atensi masyarakat, akhirnya pusat cagar budaya Betawi dipindahkan ke Situ Babakan, Jakarta Selatan tepatnya pada tahun 2004.

Hal menarik lainnya dari Condet, yaitu banyaknya kaum pendatang yang berasal dari Timur Tengah. Sehingga jangan kaget jika menemukan banyak warga lokal Condet yang fasih berbahasa Arab. Karena sekitar 95% para pendatang yang baru pindah ke Condet merupakan keturunan Arab. Sering juga dijumpai banyak restoran Arab di daerah tersebut.

Senin, 23 Desember 2024

Episode Baru PKS Pimpin Kota Serang

 


Oleh : Imam Maulana

(Bidang Pemenangan Pemilu dan Pilkada PKS Kota Serang)


Pemilihan Kepala Daerah Kota Serang baru saja usai. Pasangan calon walikota dan wakil walikota nomor urut 02 yang diusung oleh Partai Gerindra, PKS, dan PSI (serta secara tidak resmi ikut diusung oleh PBB dan Masyumi) yakni H. Budi Rustandi, SE & Nur Agis Aulia, S.Sos unggul dengan 212.262 suara (60,25% dari suara sah).  


Jika pada Pilkada sebelum-sebelumnya PKS Kota Serang ikut mengusung paslon saja, namun pada perhelatan Pilkada kali ini PKS menempatkan kader terbaiknya yaitu Kang Nur Agis Aulia menjadi calon wakil walikota dan alhamdulillah Allah berikan kemenangan. Tentu ini sejarah baru bagi keluarga besar PKS Kota Serang. 


Sebuah perjalanan perjuangan yang tidak mudah hingga berada di titik ini, baik bagi PKS maupun Kang Agis secara pribadi yang telah memberanikan diri untuk maju dan mengorbankan banyak hal. Keputusan pimpinan PKS Kota Serang (DPTD: Dewan Pimpinan Tingkat Daerah) mengusulkan Kang Agis ke tingkat DPW PKS Banten hingga DPP PKS bukanlah keputusan yang sederhana. Keputusan Kang Agis menerima amanah sebagai calon wakil walikota juga bukan keputusan yang main-main. Bagaimana tidak, Kang Agis harus menanggalkan posisinya sebagai Anggota Dewan terpilih 2024-2029 untuk maju sebagai calon wakil walikota yang belum tentu menang. Disini kita belajar mentalitas pejuang dari kang Agis, dan belajar tentang kecermatan memutuskan keputusan dari para pimpinan kita.



Memasuki fase memimpin daerah, bagi PKS Kota Serang adalah sebuah episode baru. Oleh sebabnya, Bang Hasan Ketua DPD PKS Kota Serang sering menyampaikan bahwa posisi kita hari ini harus lebih banyak belajar bagaimana caranya memimpin mulai dari posisi sebagai wakil walikota yang tugasnya mendampingi dan membantu walikota dalam menjalankan tugas pemerintahan. Banyak belajar disini, penulis artikan sebagai tindakan tegak lurus dan tertib, serta memahami posisi sembari belajar cara memimpin daerah.  Masih kata Bang Hasan, mengapa kita harus banyak belajar dan faham posisi, sebab kita ingin memimpin dalam jangka waktu yang lama. Memang butuh kesabaran dalam proses belajar memimpin. Dan kepemimpinan ini bukan hanya tentang kekuasaan, melainkan sebagai amal solih untuk melipatgandakan kebaikan. 


Dalam fase belajar memimpin daerah ini sangat mungkin kita akan menghadapi banyak dinamika yang kompleks. PKS sebagai partai dakwah akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit, tapi tetap harus dijalani sebagai sebuah ijtihad untuk kemaslahatan umat. Bang Hasan dalam forum internal Rapat Evaluasi Tim Satgas Pemenangan PKS pada Ahad, 8 Desember 2024 mengutip apa yang disampaikan Sayidina Ali bin Abu Thalib bahwa “Keruhnya berjamaah masih lebih baik daripada kejernihan individu”. Hal tersebut mengajarkan kita untuk bersabar dalam kebersamaan atas situasi yang mungkin tidak ideal dalam melakukan perbaikan di masyarakat. Dan itu jauh lebih baik daripada menjadi baik hanya untuk diri sendiri. Sebab kesalehan pribadi, kata Bang Hasan tidak akan sempurna kecuali kita juga melakukan perbaikan di masyarakat.


Menang Pilkada adalah babak baru perjuangan yang lebih berat. Perjuangan sesungguhnya baru akan dimulai. Kita jaga kemenangan ini dengan baik. Secara khusus, kata Bang Hasan, jangan tinggalkan Kang Agis sendirian. Kebaikan yang dilakukan oleh H. Budi dan Kang Agis dalam memimpin, akan menjadi amal jariah bagi kita yang berkontribusi pada kemenangan ini insya Allah.


Kang Hasan juga mengingatkan kepada kita bahwa ke depan ada tugas besar. Kita jaga partai ini. Kita bangun struktur yang solid, kader meningkat secara kualitatif dan kuantitatif.

Untuk Kota Serang di bawah kepemimpinan H. Budi dan Kang Agis, optimis akan jadi lebih baik, Insya Allah. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk menjalankan amanah kemenangan ini dengan sebaik-baiknya.

Copyright © 2024 PKS Batu Ampar All Rights Reserved.
back to top