Rabu, 03 Desember 2025

Rijālud Da‘wah: Jejak Ruhani Para Penopang Umat

 



Apabila kita menelusuri perjalanan sejarah umat dan menelaah sosok-sosok besar yang pernah hidup di dalamnya, akan kita dapati satu titik temu yang menyatukan mereka semua. Mereka bukan sekadar manusia dengan kecerdasan akal yang menonjol, tetapi pribadi-pribadi yang dianugerahi kekuatan ruh (quwwatur-rūḥ) dan keteguhan hati (quwwatul-qalb).

Dengan dua kekuatan inilah seluruh potensi lain menjadi kokoh dan bermakna.

Benarlah ungkapan Bisyr Al-Khathib yang dikutip oleh Syaikh Ahmad Rasyid dalam salah satu karyanya:

“Cukuplah bagimu pelajaran dari orang-orang yang telah wafat; ketika kisah hidup mereka dipelajari, hati menjadi hidup. Dan sungguh, ada pula manusia-manusia yang masih hidup di sekeliling kita, namun dengan melihatnya hati justru menjadi mati.”

Ungkapan ini mengajarkan bahwa kehidupan sejati bukan diukur dari denyut nadi, melainkan dari cahaya yang ditinggalkan di dalam hati manusia.


Muhaddatsūn: Karunia Ilham bagi Orang-Orang Pilihan

Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits shahih menyebutkan tentang adanya golongan manusia yang dianugerahi ilham dan firasat yang benar. Beliau bersabda:

لَقَدْ كَانَ فِيمَا قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ، فَإِنْ يَكُ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ

“Sungguh pada umat-umat sebelum kalian terdapat orang-orang muhaddatsūn (yang diberi ilham). Jika di umatku ada salah satu dari mereka, maka ia adalah Umar.”
(HR. Al-Bukhari no. 3486)

Membaca sejarah Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu ‘anhu adalah membaca lembaran demi lembaran keajaiban ketaatan dan ketajaman firasat. Dengan izin Allah, beliau pernah “melihat” keadaan pasukan Sariyyah dari jarak ratusan bahkan ribuan mil, lalu berseru dari atas mimbar:

“Wahai Sariyyah, berlindunglah ke balik gunung!”

Seruan itu didengar dan ditaati, dan kemenangan pun diraih.

Dalam kesempatan lain, Umar pernah mengatakan dengan yakin:

“Barang siapa dari keturunanku kelak memiliki luka di wajahnya, ia akan memenuhi bumi dengan keadilan.”

Ucapan ini terbukti pada diri Umar bin Abdul Aziz, khalifah adil yang walau hanya memerintah dua tahun lima bulan, namun jejak keadilannya kekal hingga hari ini.


Ilham Para Ulama: Dari Umar hingga Imam Asy-Syafi‘i

Fenomena ilham tidak berhenti pada para sahabat. Dalam sejarah Islam, Imam Asy-Syafi‘i dikenal pula sebagai seorang yang memiliki firasat yang tajam. Menjelang wafatnya, beliau menyampaikan prediksi tentang masa depan murid-muridnya—dan seluruhnya terbukti satu per satu.

Ini menunjukkan bahwa Allah menganugerahkan cahaya petunjuk kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan bertakwa.


Hasan Al-Banna: Firasat Seorang Mujaddid Zaman

Pada era modern, salah satu tokoh yang—insya Allah—termasuk dalam deretan orang-orang yang mendapatkan ilham adalah Asy-Syahid Imam Hasan Al-Banna rahimahullah.

Dalam kisahnya bersama Sayyid Qutb, tampak jelas kejernihan pandangan dan keluasan hikmah beliau. Ketika sebagian orang bergegas ingin membantah tulisan Sayyid Qutb yang kontroversial, Imam Al-Banna justru memilih menjaga pintu taubat tetap terbuka.

Dengan ketenangan seorang murabbi sejati, beliau berkata kurang lebih:

“Ia masih muda. Tulisan itu bukan lahir dari fitrahnya, melainkan dari lingkungannya. Biarkan ia tumbuh. Boleh jadi suatu hari ia akan menjadi pemikul dakwah.”

Dan sejarah membuktikan: Sayyid Qutb akhirnya menjadi salah satu pilar pemikiran dakwah Islam dan Ikhwanul Muslimin.


Lingkungan yang Menumbuhkan Cahaya

Imam Hasan Al-Banna lahir pada tahun 1906 M di Al-Mahmudiyah, dari keluarga pencinta ilmu. Ayahnya, Syaikh Ahmad As-Sa‘ati, adalah seorang ulama dan ahli hadits. Sejak kecil, Al-Banna tumbuh dalam disiplin, kesederhanaan, dan kecintaan kepada Al-Qur’an—hingga menghafal hampir seluruhnya di usia muda.

Hidupnya tertata, waktunya terbagi dengan rapi antara belajar, bekerja, ibadah, dan dakwah. Semua itu adalah fondasi bagi lahirnya seorang pemimpin ruhani, bukan sekadar organisator.


Tazkiyatun Nafs dan Jejak Tarekat

Ketertarikan beliau pada Tarekat Al-Hashafiyyah bukanlah pelarian spiritual, melainkan bagian dari perjalanan tazkiyah. Dari tarekat ini, beliau belajar bahwa agama bukan sekadar ritual, melainkan keberanian menegakkan kebenaran di hadapan kekuasaan.

Syaikh Abdul Wahhab Al-Hashafi bahkan pernah berkata kepada Hasan Al-Banna:

“Aku melihat Allah akan menghimpun hati manusia kepadamu. Ketahuilah, kelak engkau akan dimintai pertanggungjawaban atas waktu mereka.”

Kalimat ini menjadi nubuat tentang amanah besar yang kelak ia emban.


Ahlul Hajb: Pemimpin yang Menyembunyikan Keajaiban

Syaikh Thanthawi Jauhari, ulama besar Al-Azhar, menyebut Hasan Al-Banna sebagai ahlul hajb—pemimpin yang tidak menampakkan karamah luar biasa, tetapi justru membentuk manusia dan membangunkan umat.

“Mereka inilah orang-orang yang dipilih Allah untuk menghidupkan iman, memerangi kezaliman, dan menyatukan hati kaum beriman.”

Bagi Syaikh Thanthawi, Hasan Al-Banna bukan sekadar dai, tetapi arsitek kebangkitan umat.


Akhir Sebuah Kisah, Awal Sebuah Pertanyaan

Imam Hasan Al-Banna telah gugur sebagai syahid. Hingga hari ini, belum muncul sosok yang sepenuhnya menyamai perannya. Namun keyakinan kita tidak boleh goyah, karena:

إِنَّ لِكُلِّ مَرْحَلَةٍ رِجَالَهَا
“Setiap fase kehidupan memiliki para tokohnya.”

Dahulu ada kemurtadan, dan Allah menghadirkan Abu Bakar.
Dahulu ada keterpurukan umat, dan Allah menghadirkan Hasan Al-Banna.

Kini, umat kembali terluka.
Lalu pertanyaannya bukan sekadar:

“Di mana Hasan Al-Banna hari ini?”

Melainkan:

“Apakah kita sedang mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari rijāl pada marhalah ini?”

Selasa, 04 November 2025

Reses H. Nasdiyanto di Batu Ampar: Dengarkan Aspirasi, Hadirkan Solusi

 


Hari/Tanggal: Selasa, 4 November 2025
Waktu: 16.00 – 18.00 WIB
Tempat: Rumah Bapak Harun, Jl. Damiri No. 60 RT 09/04, Batu Ampar – Kramat Jati




Kegiatan Reses Ke-1 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2025–2026 Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta H. Nasdiyanto dari Komisi C berlangsung hangat dan penuh keakraban di lingkungan warga Batu Ampar, Kramat Jati.

Acara ini dihadiri oleh Wakil Camat Kramat Jati, Bapak Diman, Sekretaris Lurah Batu Ampar, serta para tokoh masyarakat seperti Ketua RW 04, Ketua RT 09 dan RT 02, dan juga Ketua DPC PKS Kramat Jati, H. Wahyu Sulistyo.



Dalam sambutannya, H. Nasdiyanto menyampaikan pentingnya kegiatan reses sebagai sarana menyerap aspirasi langsung dari masyarakat, terutama terkait kebutuhan pembangunan lingkungan, fasilitas umum, serta pelayanan publik di wilayah Kramat Jati.

“Reses ini adalah kesempatan bagi kami untuk mendengar langsung suara warga. Apa yang menjadi kebutuhan dan harapan masyarakat akan kami perjuangkan di DPRD,” ujar H. Nasdiyanto di hadapan warga yang memenuhi lokasi kegiatan.

Selain sesi dialog dan penyampaian aspirasi, acara juga diisi dengan pemberian santunan kepada anak-anak yatim dari lingkungan sekitar, sebagai wujud kepedulian sosial dan komitmen untuk berbagi kebahagiaan bersama masyarakat.




Suasana reses berlangsung akrab, penuh kehangatan, dan diselingi dengan diskusi produktif antara warga dan wakil rakyat.

PKS terus berkomitmen menghadirkan pelayanan terbaik bagi masyarakat dengan semangat Bersih, Peduli, dan Profesional, serta menjadikan setiap kegiatan reses sebagai ruang nyata dalam memperjuangkan aspirasi rakyat.




#PKSKramatJati #ResesNasdiyanto #PKSBersamaRakyat #SerapAspirasi


Senin, 27 Oktober 2025

Menyeberang Dua Jam Menuju Pulau Harapan: Catatan Perjalanan ke Pulau Tam

 

Sabtu, 25 Oktober 2025

Setiap perjalanan selalu membawa cerita, tetapi tidak semua meninggalkan kesan mendalam. Perjalanan kali ini — menuju Pulau Tam — terasa istimewa. Ia bukan sekadar perjalanan lintas laut, melainkan perjalanan batin yang mengingatkan saya betapa banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam keterbatasan, namun tetap menyimpan semangat dan harapan besar untuk maju.

Bersama Wakil Wali Kota Tual, Bapak Amir Rumra, M.Si, jajaran Dinas PUPR, dan tim, kami berangkat pagi-pagi sekali menyeberangi laut dengan speed boat. Butuh lebih dari dua jam untuk mencapai Pulau Tam — dua jam yang diwarnai percakapan ringan, hembusan angin asin, dan birunya laut yang seolah tak berujung.

Begitu menjejakkan kaki di Pulau Tam, perjalanan kami berlanjut dengan gerobak motor, satu-satunya kendaraan yang mampu melewati jalanan bergelombang menuju lokasi rencana pembangunan dermaga feri. Getarannya keras, tapi tawa warga yang menyertai perjalanan itu membuat suasana terasa hangat.

Sesampainya di lokasi, masyarakat menyambut kami dengan penuh keramahan dan harapan. Mereka bercerita dengan jujur tentang kesulitan yang mereka hadapi — kapal feri yang tidak bisa bersandar ke daratan, warga yang harus menumpang perahu kecil untuk menjemput atau mengantar penumpang dan barang, serta risiko besar yang muncul saat ombak tinggi datang.

“Kami sangat berharap pembangunan dermaga ini bisa terwujud, Ibu. Agar kami bisa hidup lebih aman, hasil melaut mudah dijual, dan ekonomi masyarakat berputar,” tutur seorang warga dengan nada yang penuh harap.

Mendengar itu, saya terdiam sejenak. Di tengah segala kesederhanaan mereka, ada semangat luar biasa untuk bertahan dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Saya sadar, pembangunan dermaga ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Ia adalah jembatan harapan — agar konektivitas antarwilayah semakin mudah, agar hasil laut bisa tersalurkan lebih cepat, dan agar kesejahteraan benar-benar dirasakan oleh mereka yang tinggal jauh di pelosok negeri.

Ketika senja mulai turun, dan perahu kami kembali menembus laut untuk pulang, saya menatap Pulau Tam yang perlahan menjauh. Di balik debur ombak dan langit yang mulai temaram, saya membawa pulang pesan yang begitu kuat:
bahwa pembangunan sejati bukan hanya tentang beton dan baja, tetapi tentang mewujudkan harapan dan membuka jalan bagi kehidupan yang lebih layak.

Pulau Tam mengajarkan saya satu hal penting — bahwa di setiap sudut negeri ini, selalu ada harapan yang menunggu untuk dijemput. Dan selama kita mau mendengar, mendekat, dan bekerja dengan hati, harapan itu akan menemukan jalannya.


Minggu, 26 Oktober 2025

Buya Hamka dan Jalan yang Tak Pernah Lurus, Kisah Kecil Perselisihan Jalan Ayah dan Anak




 “Aku tinggalkan Padang Panjang tanpa pamit. Ayahku marah, tetapi aku telah nekad. Aku ingin mencari hidupku sendiri. Aku tahu beliau marah bukan karena benci, melainkan karena khawatir anaknya akan tersesat jalan.”

Begitu kenangan Buya Hamka tentang kepergiannya ke Yogyakarta pada usia 16 tahun (1924), seperti tertulis dalam Hamka, Kenang-Kenangan Hidup.

Kepergian itu membuat ayahnya, Haji Rasul, murka. Sang ayah merasa kecewa karena anak yang diharapkannya menjadi penerus perjuangan justru dianggap tidak disiplin menuntut ilmu agama.

Haji Rasul — tokoh pembaharu Islam di Minangkabau, pelopor Kaum Muda — dikenal keras, tegas, dan teguh dalam memperjuangkan kemurnian ajaran Islam. Melalui madrasah Sumatera Thawalib di Padang Panjang, ia menanamkan pendidikan agama yang rasional dan puritan. Sebagai ayah, tentu ada harapan agar perjuangan itu kelak diteruskan oleh darah daging sendiri.

Namun, Hamka muda tumbuh dengan jiwa yang berbeda. Ia mencintai sastra, budaya, dan filsafat. Ia membaca karya-karya Melayu, Arab, hingga Barat. Ia sejalan dengan nilai-nilai ayahnya, tetapi seringkali tak sejalan dengan metodenya. Ia bahkan sempat kesulitan belajar bahasa Arab di surau karena tak cocok dengan cara pengajaran yang ada. Baru kemudian, setelah menemukan metode yang sesuai untuk dirinya, Hamka menguasai bahasa Arab dengan baik.

Kisah Buya Hamka dan Haji Rasul adalah cermin yang langka, tetapi pesan di dalamnya abadi: darah bisa sama, tapi jalan hidup bisa berbeda. Tak semua anak menapaki jejak orang tuanya dengan cara yang sama — meski pada akhirnya, banyak yang berlabuh di pelabuhan serupa.

Dalam Buya Hamka: Sebuah Biografi Singkat karya Anwar Harjono tertulis:

“Ketika Hamka muda ingin pergi merantau ke Jawa, ayahnya tidak memberi izin. Ia menganggap Hamka belum cukup kuat ilmunya. Namun Hamka tetap berangkat diam-diam. Dari perantauan itulah ia bertemu dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah di Yogyakarta dan menemukan arah hidupnya.”

Di Yogyakarta, Allah mempertemukan Hamka dengan tokoh-tokoh besar seperti Ki Bagus Hadikusumo, H.O.S. Tjokroaminoto, dan Syamsurizal. Pertemuan-pertemuan itulah yang menuntunnya kembali ke jalan dakwah — jalan yang sesungguhnya juga telah ditempuh oleh ayahnya.

Begitulah takdir bekerja. Allah Maha Kuasa merangkai jalan hidup seseorang dengan cara yang tak terduga. Kadang hari ini orang tampak menyimpang, tetapi esok justru menjadi cahaya bagi banyak jiwa.

Mungkin, andai kita hidup di masa itu dan melihat Hamka remaja pergi tanpa pamit, kita pun akan ikut geram sebagaimana Haji Rasul. Namun, didikan seorang ayah rabbani tak pernah hilang jejaknya.

Ayahku mendidikku dengan cambuk, tetapi cambuk itulah yang membuatku tahu arah hidup,” kata Buya Hamka suatu ketika.

Maka, bila kini kita melihat seorang anak ulama, pendakwah, atau orang saleh yang tampak “melenceng” dari jalan orang tuanya, jangan tergesa-gesa menghakimi. Kita memang diperintahkan menilai dari yang zahir, tapi masa depan adalah rahasia Allah.

Biarkan layar terkembang membawa anak itu berlayar sejauh takdirnya. Bila Allah berkehendak, satu celah kecil di hati yang keras bisa dilunakkan oleh doa, oleh keteladanan, dan oleh kasih sayang.

Alih-alih sinis, mengapa tidak kita kirimkan seuntai doa yang baik?

Seminar Parenting RKI Batu Ampar: Kenali Gejala Menopause untuk Raih Bahagia

 




Dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan wanita, khususnya para ibu, RKI DPRA Batu Ampar bersama warga RT 08 menggelar kegiatan Seminar Parenting dengan tema “Kenali Gejala Menopause untuk Raih Bahagia.”

Kegiatan ini berlangsung penuh semangat dan keakraban pada Ahad, 26 Oktober 2025, bertempat di Rumah Ketua RT 08.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dengan registrasi peserta yang disambut ramah oleh panitia. Setelah pembukaan, tilawah, dan doa bersama, suasana semakin hangat dengan sambutan dari Bapak Sarmono, Ketua RT 08, yang mengapresiasi terselenggaranya acara bermanfaat ini. Beliau berharap kegiatan semacam ini dapat rutin dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya kaum ibu.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua RKI DPRA Batu Ampar, yang memberikan dukungan serta motivasi agar para ibu terus semangat menambah wawasan, terutama dalam hal kesehatan keluarga dan diri sendiri.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi utama oleh dr. Linda Silviana. Dalam paparannya, beliau menjelaskan secara ringan dan jelas tentang menopause, mulai dari pengertian, gejala-gejala yang biasa muncul, hingga cara menjaga keseimbangan fisik dan mental selama masa tersebut.
Beliau juga menekankan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan agar perempuan dapat melalui masa menopause dengan tenang, bahagia, dan penuh percaya diri.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar kesehatan wanita, perubahan hormon, serta tips menjaga kebugaran di usia matang.

Sebagai penutup, panitia membagikan doorprize menarik untuk peserta yang beruntung. Suasana menjadi semakin meriah dan penuh keceriaan. Acara kemudian ditutup dengan doa dan foto bersama, menandai akhir kegiatan yang penuh manfaat dan kebersamaan.

Secara keseluruhan, kegiatan Seminar Parenting “Kenali Gejala Menopause untuk Raih Bahagia” berjalan tertib, lancar, dan sukses. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan merasa mendapatkan banyak ilmu baru yang bermanfaat.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan edukasi tentang kesehatan, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga di lingkungan RT 08.

📸 Dokumentasi










Seminar ini menjadi bukti nyata bahwa edukasi tentang kesehatan mental dan fisik perempuan sangat penting untuk dibicarakan secara terbuka dan positif. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan, sehingga para ibu dapat melewati masa menopause dengan bahagia, sehat, dan penuh rasa percaya diri.






Minggu, 19 Oktober 2025

Silaturahim & Konsolidasi PKS Batu Ampar: Ukhuwah Erat, Semangat Membara!

 


Ahad pagi, 19 Oktober 2025, menjadi momen penuh makna bagi para anggota pelopor PKS se-Batu Ampar. Bertempat di Rumah Harun Cicih (Jl. Damiri No.60, RT.09/04, Batu Ampar, Kramat Jati), acara Silaturahim & Konsolidasi digelar dengan penuh kehangatan dan antusiasme.

Dengan mengusung tema:

🌿 “Menguatkan Ukhuwah, Meneguhkan Langkah, Menyemai Kemenangan”

Sejak pukul 07.00 WIB, peserta mulai berdatangan dengan wajah ceria dan semangat tinggi. Mereka tidak hanya hadir sebagai undangan, tetapi sebagai bagian penting dari barisan perjuangan yang ingin semakin solid dan kokoh ke depan.


🤝 Sambutan Penuh Semangat dari Para Pimpinan

Acara diawali dengan sambutan dari Ketua DPRA dan dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua DPC PKS Kramat Jati, Haji Wahyu Sulistyo  yang memberikan dorongan semangat kepada seluruh anggota pelopor untuk terus bergerak bersama, meneguhkan langkah, dan menyemai kemenangan dalam setiap aktivitas perjuangan.

Kedua sambutan ini memberi energi positif dan mempertegas arah gerak perjuangan bersama.


🌟 Taujih & Diskusi yang Menginspirasi

Suasana semakin hangat dengan hadirnya Ustadz Herri Siswanto, yang mengisi acara dengan taujih penuh makna. Beliau mengingatkan pentingnya niat yang lurus, semangat berjamaah, dan peran setiap individu dalam perjuangan dakwah dan politik yang bermartabat.

Setelah taujih, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dipimpin oleh Ustadz Fairuzi. Diskusi berlangsung interaktif, membahas langkah-langkah strategis untuk memperkuat peran para pelopor dalam berbagai bidang. Para peserta aktif bertanya, memberikan masukan, dan berbagi pengalaman, menciptakan suasana dinamis dan membangun.


🙌 Antusiasme Peserta Menghidupkan Acara

Yang paling membanggakan, antusiasme peserta luar biasa! Ruangan terasa hidup dengan semangat positif, ukhuwah yang kuat, dan tekad untuk terus bergerak bersama. Banyak peserta yang mengungkapkan rasa syukur bisa kembali berkumpul dalam forum yang sarat makna seperti ini.


💪 Meneguhkan Langkah Menuju Kemenangan

Acara Silaturahim & Konsolidasi ini menjadi bukti nyata bahwa kekuatan perjuangan terletak pada kebersamaan, ukhuwah, dan langkah yang searah. Dengan barisan yang kuat dan hati yang bersatu, kemenangan bukan hanya sekadar cita-cita, melainkan tujuan yang dapat diraih bersama.

Terima kasih kepada seluruh anggota pelopor yang telah hadir dan berpartisipasi aktif. Semoga semangat ini terus menyala dan menumbuhkan kemenangan di setiap langkah kita. 🚀

Foto Kegiatan 








Ikuti terus informasi dan kegiatan lainnya melalui media sosial kami:
📱 Facebook PKS Batu Ampar | Instagram @pks_batuampar | YouTube PKSTV Batu Ampar | TikTok @pks_batuampar

Kamis, 09 Oktober 2025

Anashirud Da’wah (Unsur-Unsur Dakwah)

 


Unsur-unsur Dakwah

Unsur-unsur pokok dakwah Islam sekurang-kurangnya ada delapan, yaitu: Pertama, ada legalitas aktivitasnya (syari’atud da’wah). Kedua, ada misi dakwah yang disampaikan (risalatut da’wah). Ketiga, ada kegiatan/gerak yang berkelanjutan (al-harakatul mustamirah). Keempat, ada tujuan yang benar (al-ghayatus shahihah). Kelima, ada pedoman atau landasan argumentasi. Keenam, ada pemimpin tulus yang mengarahkan aktivitas dakwah (al-qiyadatul mukhlishah). Ketujuh, ada pasukan atau kader-kader dakwah yang taat/disiplin (al-jundiyyatul mu’thi’ah). Kedelapan, ada prinsip atau nilai utama dari dakwah yang diemban yakni kemurnian atau totalitas (at-tajarrud) dalam mengesakan Allah Ta’ala (at-tauhid).

Unsur-unsur pokok ini disimpulkan dari firman Allah Ta’ala,

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’”. (QS. Yusuf, 12: 108)

Syari’atud Da’wah

Aktivitas dakwah adalah aktivitas legal yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seluruh umatnya. Kata “Qul.” (katakanlah!) adalah kata perintah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan tentang misi kerasulannya.

Seperti telah disebutkan di materi-materi sebelumnya, berkenaan dengan QS. Yusuf ayat 108 di atas, Ibnul Al-Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Tidaklah seseorang itu murni sebagai pengikut Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  sampai ia mau mendakwahkan apa-apa yang didakwahkan oleh beliau dengan dasar ilmu yang mendalam.”[1]

Legalitas dakwah juga sangat tegas disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sebarkanlah oleh kalian (ilmu) dariku, sekali pun hanya satu ayat!” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini Rasulullah mengatakan, ‘sekalipun hanya satu ayat’. Tujuannya agar semua pendengar dapat segera menyampaikan ayat-ayat yang telah didengarnya itu kepada orang lain, walaupun sedikit. Sehingga akan berkelanjutanlah penyampaian ayat-ayat yang didakwahkan oleh beliau.”[2]

Risalatud Da’wah

Misi dakwah yang disampaikan adalah agama dan syariat Islam. Muqatil menjelaskan makna قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ (Katakanlah: inilah jalan [agama]-ku) menurut jumhur ulama adalah: diinii (agamaku).[3] Ibnu Juzay berkata: isyaratun ila syari’atil Islam (isyarat terhadap syariat Islam).[4] Sedangkan Ibnu Zaid berkata: Hadza amrii, wa sunnatii, wa minhajiiinilah urusan (agama)-ku, ajaranku, dan pedomanku.[5] Ibnu Abi Zamanain berkata: millati (agamaku).[6] Al-Baidhawi berkata: ya’ni ad-da’wata ilat tauhidi wal i’dadi lil ma’ad (seruan kepada tauhid dan bersiap menghadapi akhirat).[7] Al-Biqa’iy berkata: Ayi da’wati ilallah ‘ala ma da’a ilaihi kitabullahi wa sunnanuhu shallallahu ‘alaihi wa sallam (yakni menyeru kepada Allah sebagaimana diserukan dalam kitab Allah dan sunnah Nabi).[8]

Syariat Islam yang diserukan adalah syariat Islam yang menyeluruh mencakup aspek keyakinan (al-i’tiqadi), moral (al-akhlaki), sikap (as-suluki), perasaan (as-syu’uri), pendidikan (at-tarbawi), kemasyarakatan (al-ijtima’i), politik (as-siyasi), ekonomi (al-iqtishadi), militer (al-‘askari), dan hukum (al-jina’i).

Al-Harakatul Mustamirah

Dakwah Islam harus dilakukan secara berkelanjutan. Perhatikan kata أَدْعُوٓا۟ yang menggunakan bentuk  fi’il mudharri’, menunjukkan makna pekerjaan yang sedang dan akan terus dilakukan.

Kita pun mendapati sunnah fi’liyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terus melancarkan dakwahnya walaupun ujian dan rintangan begitu berat. Beliau terus bergerak dan mengatur langkah hingga kemenangan datang.

Perhatikanlah episode perjalan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dimuat dalam kitab-kitab sirah nabawiyah. Beliau pernah melewati masa dakwah sirriyah dan dakwah jahriyah; beliau pun melakukan metode pembinaan umat secara sembunyi-sembunyi; pernah membolehkan ‘orang-orang lemah’ di kalangan kaum muslimin agar menampakkan ‘kemurtadan’ demi keselamatan jiwa dan menjaga pertumbuhan dakwah; beliau menghindari konfrontasi dan mengambil langkah defensif  saat di Makkah; kemudian mengizinkan sebagaian pengikutnya hijrah ke Habasyah untuk melindungi diri dan dakwahnya; beliau pernah memanfaatkan hukum jiwar (jaminan keamanan) dari musyrikin yang tidak memusuhi; pun beliau pernah melakukan upaya mencari kekuatan penolong di luar Makkah, dan lain sebagainya.

Al-Ghaayatus Shahihah

Tujuan dakwah Islamiyah adalah إِلَى ٱللَّهِ (menyeru kepada Allah Ta’ala). Ad’u ila-Llah maknanya adalah la ilaa ghairihi min malakin au insaanin, au kawkabin, au shanamin, innama du’aii ilallah wahdah, tidak menyeru kepada selain-Nya, apakah malaikat, manusia, benda angkasa, atau berhala, tetapi seruanku hanyalah kepada Allah saja.[9]

Tujuan dakwah Islamiyah begitu murni. Tidak dibenarkan terselip kepentingan pribadi da’i untuk mencari keuntungan duniawi berupa harta, kedudukan, popularitas, dan bahkan sekedar ucapan terima kasih.

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan’”. (QS. Shad, 38: 86)

Al-Minhajul Wadhih

Dakwah Islamiyah mesti عَلَىٰ بَصِيرَةٍdilandasi argumentasi atau pedoman yang jelas. ‘Ala bashiratin maknanya adalah ‘ala hudan (berdasarkan petunjuk)[10]‘ala yaqiinin wa haqqin (berdasarkan keyakinan dan kebenaran)[11]ma’a hujjatin waadhihatin ghaira ‘amya-a (disertai argumentasi yang jelas, tidak samar)[12], atau Ai bayanin wa hujjatin wadhihatin ghairi ‘amya-a (berdasarkan bukti/penjelasan, argumentasi yang jelas, tidak samar).[13]

Oleh karena itu, seluruh perkataan, perbuatan, gerak, langkah, dan pikiran para da’i di medan dakwah hendaknya selalu berada di dalam koridor manhaj Islam.

Al-Qiyadatu Mukhlishah

Kalimat أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى, mengisyaratkan bahwa dakwah adalah ‘amal jama’i (amal kolektif) sebagaimana jihad fi sabilillah yang membutuhkan keberadaan amir atau qiyadah. Allah Ta’ala berfirman,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran, 3: 104)

Mengenai وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ, Muqatil bin Hayyan berkata: liyakun minkum qaumun, ya’ni wahidan aw-itsnaini au tsalasa nafarin fa ma fauqa dzalik, harus ada orang, satu, dua, atau tiga orang yang berdakwah, bahkan dengan jumlah di atas itu.[14] ‘Ummatun di ayat ini maknanya adalah thaifatun yad’una ilal khairi, sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan[15], atau jama’atun (kelompok)[16] yang yad’una ila kulli khairin yuhibbuhullah (menyeru kepada segala apa yang dicintai Allah).[17]

Keberadaan amir atau qiyadah dalam setiap aktivitas bersama sangatlah urgen. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Jika tiga orang keluar bepergian maka hendaknya salah seorang mereka menjadi pemimpinnya.” (HR. Abu Daud dari Abu Said dan Abu Hurairah).  

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لَا يَحِلُّ لِثَلَاثَةٍ يَكُونُونَ بِفَلَاةِ مِنْ الْأَرْضِ إلَّا أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ

“Tidak halal bagi tiga orang yang berada di sebuah tempat di muka bumi ini melainkan mereka menunjuk seorang pemimpin di antara mereka.” (Musnad Imam Ahmad)

Berkenaan dengan pentingnya kepemimpin, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

فَأَوْجَبَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأْمِيرَ الْوَاحِدِ فِي الِاجْتِمَاعِ الْقَلِيلِ الْعَارِضِ فِي السَّفَرِ تَنْبِيهًا بِذَلِكَ عَلَى سَائِرِ أَنْوَاعِ الِاجْتِمَاعِ . وَلِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْجَبَ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنْ الْمُنْكَرِ وَلَا يَتِمُّ ذَلِكَ إلَّا بِقُوَّةِ وَإِمَارَةٍ . وَكَذَلِكَ سَائِرُ مَا أَوْجَبَهُ مِنْ الْجِهَادِ وَالْعَدْلِ وَإِقَامَةِ الْحَجِّ وَالْجُمَعِ وَالْأَعْيَادِ وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ . وَإِقَامَةِ الْحُدُودِ لَا تَتِمُّ إلَّا بِالْقُوَّةِ وَالْإِمَارَةِ

“Rasulullah mewajibkan seseorang memimpin sebuah perkumpulan kecil dalam perjalanan, demikian itu menunjukkan juga berlaku atas  berbagai perkumpulan lainnya. Karena Allah Ta’ala memerintahkan amar ma’ruf dan nahi munkar, dan yang demikian itu tidaklah sempurna melainkan dengan kekuatan dan kepemimpinan. Demikian juga kewajiban Allah lainnya seperti jihad, menegakkan keadilan, haji, shalat Jumat hari raya, menolong orang tertindas, dan menegakkan hudud. Semua ini tidaklah sempurna kecuali dengan kekuatan dan imarah (kepemimpinan).” [18]

Dengan keberadaan amir atau qiyadah, barisan dan gerak dakwah akan lebih tersusun rapi bagaikan bangunan yang kokoh.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. As-Shaf, 61: 4)

Jelas, amir atau qiyadah yang dikehendaki adalah amir atau qiyadah yang mukhlishah (ikhlash dan tulus kepada Allah Ta’ala).

Al-Jundiyyatul Muthi’ah

Kalimat أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى, mengisyaratkan pula bahwa dakwah adalah ‘amal jama’i (amal kolektif) sebagaimana jihad fi sabilillah yang membutuhkan keberadaan al-jundiyyatul muthi’ah (pasukan/kader yang taat/disiplin). Bukankah Nabi Isa ‘alaihis salam memiliki kaum hawariyyin dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kaum muhajirin dan anshar? Dakwah memang akan berjalan optimal jika didukung oleh al-jundiyyatul muthi’ah (pasukan/kader yang taat/disiplin)Maka, seorang muslim yang terlibat dalam gerakan dakwah hendaknya memahami urgensi ketaatan kepada qiyadah, kecuali dalam perkara maksiat atau hal-hal yang jelas-jelas melanggar syariat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ”.

Tunduk dan patuh bagi seorang muslim adalah dalam semua hal yang disukainya dan yang dibencinya, selama ia tidak diperintahkan untuk maksiat. Apabila diperintahkan untuk maksiat, maka tidak boleh tunduk dan tidak boleh patuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkenaan dengan ketaatan jundi kepada qiyadah, amir, atau ulil amri, Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa, 4: 59)

Ayat ini dapat diimplementasikan dalam skup kepemimpinan yang besar maupun yang kecil. Asbabun nuzul ayat di atas diantaranya dikaitkan dengan peristiwa perselisihan antara Khalid bin Walid sebagai pemimpin sariyyah (pasukan) dengan ‘Amar bin Yasir tentang seseorang yang telah masuk Islam dan mendapat jaminan keamanan dari ‘Amr bin Yasir—tanpa sepengetahuan Khalid sebagai pemimpin. Perselisihan itu dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau memperbolehkan tindakan Ammar, tetapi melarangnya mengulangi perbuatannya lagi, yakni memberikan perlindungan tanpa seizin pemimpin pasukan.[19]

Selain hadits-hadits di atas, masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang berbicara tentang ketaatan kepada pemimpin. Diantaranya adalah hadits-hadits berikut ini,

Dari Anas, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا، وَإِنَّ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ»

Tunduk dan patuhlah kalian, sekalipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habsyah yang kepalanya seperti zabibah (anggur kering). (HR. Bukhari).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan,

أَوْصَانِي خَلِيلِي أَنْ أَسْمَعَ وَأُطِيعَ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا مُجَدَّع الْأَطْرَافِ

“Kekasihku (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah mewasiatkan kepadaku agar aku tunduk dan patuh (kepada pemimpin), sekalipun dia (si pemimpin) adalah budak Habsyah yang cacat anggota tubuhnya (tuna daksa).” (HR. Muslim).

Dari Ummul Husain, disebutkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbah haji wada’:

«وَلَوِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبَدٌ يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ، اسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا»

“Seandainya seorang budak memimpin kalian dengan memakai pedoman Kitabullah, maka tunduk dan patuhlah kalian kepadanya.” (HR. Muslim).

Menurut lafaz lain yang juga dari Imam Muslim disebutkan:

«عَبْدًا حَبَشِيًّا مَجْدُوعًا»

“…budak Habsyah yang tuna daksa (cacat anggota tubuhnya).”

Konteks hadits-hadits di atas adalah dalam skup kepemimpinan besar (negara/daulah), namun kita dapat mengambil hikmah dan menerapkan nilai-nilai moralnya dalam skup kepemimpinan yang lebih kecil (kepemimpinan dalam perjalanan, kelompok, organisasi, dan lain-lain) secara proporsional dan kontekstual.

At-Tajarrud wat Tauhid

Selain memerintahkan untuk memproklamirkan adanya misi dakwah, melalui QS. Yusuf ayat 108 ini pun Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memproklamirkan prinsip dan nilai utama dari dakwah yang diembannya yakni kemurnian atau totalitas (at-tajarrud) dalam mengesakan Allah Ta’ala (at-tauhid), وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ.

Ibnu Abi Zamanain berkata mengenai kalimat ini: “Amarahu an yunazzihallaha ‘amma qalal musyrikun, diperintahkan kepadanya agar memyucikan Allah dari apa-apa yang dikatakan musyrikin”. Hal senada disampaikan pula oleh Al-Baidhowi, An-Nasafi, Al-Ijay, dan yang lainnya.

Pemurnian dan implementasi tauhid adalah fondasi dakwah Islamiyah, karena ia adalah tempat berdirinya seluruh bangunan Islam. Dari awal hingga akhir, dakwah Islamiyah harus bergulir dalam rangka membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menjadi penghambaan kepada Al-Khaliq semata.

Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala,

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh diatas tauhid dan supaya mereka mendirikan shalat serta memberi zakat. Dan demikian itulah agama yang benar.” (QS. Al-Bayyinah, 98: 5).

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.’” (QS. Al-An’am, 6: 162)

Ingatlah apa yang yang diucapkan oleh Rib’i bin Amir radhiyallahu ‘anhu kepada Rustum, komandan perang Persia,

إن الله ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِخَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ العِبَادِ إِلىَ عِبَادَةِ اللهِ وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْياَ اِلىَ سَعَتِهَا وَمِنْ جُوْرِ الأَدْيَانِ إِلىَ عَدْلِ الإِسْلاَمِ

“Sesungguhnya Allah telah membangkitkan kami untuk mengeluarkan siapa pun yang mau, dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah semata; dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia, dan dari keculasan agama-agama menuju keadilan Islam”.

Catatan Kaki:

[1] Miftah Dar As-Sa’adah, jilid 1 hal. 154

[2] Fath Al-Bari, jilid 6, hal. 575

[3] Al-Bahrul Muhith, Abu Hayyan, App: Al-Bahits Al-Qur’ani.

[4] At-tashilu li ‘Ulumit Tanzil, Ibnu Juzay, App: Al-Bahits Al-Qur’ani.

[5] Al-Muharrarul WajizIbnu ‘Athiyah, App: Al-Bahits Al-Qur’ani.

[6] Tafsirul Qur’an Al-Aziz, Ibnu Zamanain, App: Al-Bahits Al-Qur’ani.

[7] Tafsir Al-Baidhawiy, App: Al-Bahits Al-Qur’ani.

[8] An-Nudzumud Durar, Al-Biqa’iy, App: Al-Bahits Al-Qur’ani

[9] Lihat: Al-Bahrul Muhith, Abu Hayyan, App: Al-Bahits Al-Qur’ani.

[10] Lihat: Tafsirul Qur’an Al- ‘Adzim, Ibnu Abi Hatim; Ad-Durul Mantsur, Jalaluddin As-Suyuthi; An-Naktu wal ‘Uyun, Al-Mawardi, App: Al-Bahits Al-Qur’ani.

[11] Lihat: Tafsirul Qur’an Al-Aziz, Ibnu Abi Zamanain; Bahrul Ulum, As-Samarqandi; Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy; Ma’alimut Tanzil, Al-Baghawi; Al-Jami’u li Ahkamil Qur’an, Al-Qurtubi, App: Al-Bahits Al-Qur’ani.

[12] Lihat: Madarikut Tanzil, An-Nasafi; Tafsirul Jalalain; At-Tashilut Tanzil, Ibnu Juzay; Fathul Qadir, As-Syaukani; Mahasinut Ta’wil, Al-Qasimi, App: Al-Bahits Al-Qur’ani.

[13] Lihat: Ruhul Ma’ani, Al-Alusi, App: Al-Bahits Al-Qur’ani.

[14] Tafsirul Qur’an Al-Adzim, Ibnu Abi Hatim, App: Al-Bahits Al-Qur’ani.

[15] Tafsirul Qur’an Al-Karim, Ibnu ‘Utsaimin, App: Al-Bahits Al-Qur’ani

[16] Taisirul Karimir Rahman, As-Sa’di, App: Al-Bahits Al-Qur’ani.

[17] Al-Mukhtashar, Markazut Tafsir, App: Al-Bahits Al-Qur’ani

[18] As Siyasah Asy Syar’iyyah, Hal. 169, Mawqi’ Al Islam

[19] قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمُفَضَّلِ حَدَّثَنَا أَسْبَاطٌ، عَنِ السُّدِّيِّ: {أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ} قَالَ: بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً عَلَيْهَا خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ، وَفِيهَا عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ، فَسَارُوا قِبَلَ الْقَوْمِ الَّذِينَ يُرِيدُونَ، فَلَمَّا بَلَغُوا قَرِيبًا مِنْهُمْ عَرَّسوا، وَأَتَاهُمْ ذُو العُيَيْنَتَين فَأَخْبَرَهُمْ، فَأَصْبَحُوا قَدْ هَرَبُوا غَيْرَ رَجُلٍ. فَأَمَرَ أَهْلَهُ فَجَمَعُوا مَتَاعَهُمْ، ثُمَّ أَقْبَلَ يَمْشِي فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ، حَتَّى أَتَى عَسْكَرَ خَالِدٍ، فَسَأَلَ عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: يَا أَبَا الْيَقْظَانِ، إِنِّي قَدْ أَسْلَمْتُ وَشَهِدْتُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَإِنَّ قَوْمِي لَمَّا سَمِعُوا بِكُمْ هَرَبُوا، وَإِنِّي بَقِيتُ، فَهَلْ إِسْلَامِي نَافِعِي غَدًا، وَإِلَّا هَرَبْتُ؟ قَالَ عَمَّارٌ: بَلْ هُوَ يَنْفَعُكَ، فَأَقِمْ. فَأَقَامَ، فَلَمَّا أَصْبَحُوا أَغَارَ خَالِدٌ فَلَمْ يَجِدْ أَحَدًا غَيْرَ الرَّجُلِ، فَأَخَذَهُ وَأَخَذَ مَالَهُ. فَبَلَغَ عَمَّارًا الْخَبَرُ، فَأَتَى خَالِدًا فَقَالَ: خَلِّ عَنِ الرَّجُلِ، فَإِنَّهُ قَدْ أَسْلَمَ، وَإِنَّهُ فِي أَمَانٍ مِنِّي. فقال خالد: وفيم أنت تُجِيرُ؟ فَاسْتَبَّا وَارْتَفَعَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَجَازَ أَمَانَ عَمَّارٍ، وَنَهَاهُ أَنْ يُجِيرَ الثَّانِيَةَ عَلَى أَمِيرٍ. فَاسْتَبَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ خَالِدٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَتَتْرُكُ هَذَا الْعَبْدَ الْأَجْدَعَ يَسُبُّني، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا خَالِدُ، لَا تَسُبَّ عَمَّارًا، فَإِنَّهُ مَنْ يَسُبُّ عَمَّارًا يَسُبَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يُبْغِضْهُ يُبْغِضْهُ اللَّهُ وَمَنْ يَلْعَنْ عَمَّارًا يَلْعَنْهُ اللَّهُ” فَغَضِبَ عَمَّارٌ فَقَامَ، فَتَبِعَهُ خَالِدٌ حَتَّى أَخَذَ بِثَوْبِهِ فَاعْتَذَرَ إِلَيْهِ، فَرَضِيَ عَنْهُ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَوْلَهُ: {أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ}

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Asbat, dari As-Saddi sehubungan dengan firman-Nya: taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian. (An-Nisa: 59)

Bahwa Rasulullah pernah mengirimkan suatu pasukan khusus di bawah pimpinan Khalid ibnul Walid, di dalam pasukan itu terdapat Ammar ibnu Yasir. Mereka berjalan menuju tempat kaum yang dituju oleh mereka; dan ketika berada di dekat tempat tersebut, mereka turun beristirahat karena hari telah malam. Kemudian mereka diketahui oleh mata-mata kaum yang dituju mereka, lalu mata-mata itu memberitahukan kepada kaumnya akan kedatangan mereka. Maka kaumnya pergi melarikan diri meninggalkan tempat mereka kecuali seorang lelaki yang memerintahkan kepada keluarganya agar semua barang mereka dikemasi. Kemudian ia sendiri pergi dengan berjalan kaki di kegelapan malam hari menuju ke tempat pasukan Khalid ibnul Walid. Setelah ia sampai di tempat pasukan kaum muslim, maka ia menanyakan tentang Ammar ibnu Yasar, lalu ia datang kepadanya dan mengatakan, “Hai Abul Yaqzan, sesungguhnya sekarang aku masuk Islam dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Sesungguhnya kaumku setelah mendengar kedatangan kalian; mereka semuanya melarikan diri, tetapi aku tetap tinggal di tempat. Maka apakah Islamku ini dapat bermanfaat bagiku besok pagi nanti? Jika tidak, maka aku pun akan ikut lari.” Ammar menjawab, “Tidak, bahkan Islammu dapat bermanfaat untuk dirimu. Sekarang pulanglah, dan tetaplah di tempat tinggalmu!” Lalu lelaki itu pulang dan menetap di tempatnya.

Pada keesokan harinya Khalid ibnul Walid datang menyerang, dan ternyata ia tidak menemukan seorang pun dari musuhnya selain lelaki tadi, lalu Khalid menawannya dan mengambil semua hartanya. Ketika sampai berita itu kepada Ammar, maka Ammar datang kepada Khalid dan mengatakan kepadanya, “Lepaskanlah lelaki ini, karena sesungguhnya dia telah masuk Islam, dan sesungguhnya dia telah berada di bawah perlindunganku.” Khalid berkata, “Atas dasar apakah kamu memberi perlindungan?” Keduanya bertengkar, dan akhirnya keduanya melaporkan peristiwa itu kepada Rasulullah. Maka Rasulullah memperbolehkan tindakan Ammar, tetapi melarangnya mengulangi perbuatannya lagi, yakni memberikan perlindungan tanpa seizin pemimpin pasukan. Keduanya masih terus berbalas caci-maki di hadapan Rasulullah.

Maka Khalid berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau biarkan saja budak yang hina ini mencaciku?” Rasulullah menjawab: “Hai Khalid, janganlah engkau mencaci Ammar, karena sesungguhnya barang siapa yang mencaci Ammar, Allah membalas mencacinya; dan barang siapa yang membenci Ammar, Allah membalas membencinya; dan barang siapa yang melaknat Ammar, maka Allah membalas melaknatnya.”

Ammar masih dalam keadaan emosi. Maka ia bangkit dan pergi, lalu diikuti oleh Khalid. Kemudian Khalid menarik bajunya dan meminta maaf kepadanya. Akhirnya Ammar memaafkannya. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: “Taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian.” (An-Nisa: 59)

Copyright © 2024 PKS Batu Ampar All Rights Reserved.
back to top