Senin, 16 Juni 2025

Materi Tarbawi : Makna Al-Ilah

 


Kata ilah terbentuk dari kata kerja aliha. Dalam bahasa Arab jika dikatakan aliha-hu, berarti:

  1. Sakana ilahi, yaitu merasa tenteram kepadanya. Maksudnya adalah, ketika ilah tersebut diingat-ingat olehnya, ia merasa senang. Dan manakala mendengar nama ilah itu disebut atau dipuji orang, ia merasa tenteram.
  2. Istajara bihi, yaitu merasa dilindungi olehnya. Artinya, karena ilah tersebut dianggap memiliki kekuatan ghaib yang mampu menolong dirinya dari kesulitan hidup.
  3. Asyauqu ilaihi, yaitu merasa selalu rindu kepadanya. Maksudnya adalah, ada keinginan untuk selalu bertemu dengannya, baik berkelanjutan atau tidak. Ada kegembiraan apabila bertemu dengannya.
  4. Wuli’a bihi, yaitu merasa cinta dan cenderung kepadanya. Rasa rindu yang menguasai diri menjadikannya mencintai ilah tersebut, walau bagaimanapun keadaannya. Ia selalu beranggapan bahwa pujaannya memiliki kelayakan dicintai sepenuh hati.


Dalam perkataan orang Arab, kata alihahu sinonim dengan kata ‘abadahu. Misalnya ada ungkapan kalimat, aliha rajulu ya-lahu“lelaki itu menghambakan diri pada ilah-nya”.

Dalam hal ini, Islam menyeru umat manusia agar menjadikan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya ilah. Jangan sampai mereka meng-ilah-kan dunia, sehingga merasa tenteram kepadanya padahal dunia itu fana,

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus, 10: 7-8)

Islam juga mencegah manusia meng-ilah-kan jin, yakni meminta perlindungan kepada mereka,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Jin, 72: 6)

Islam juga mengajak umat manusia untuk tidak membuat andad (tandingan) bagi Allah Ta’ala. Namun orang-orang musyrik malah mencintai andad tersebut sebagaimana mencintai Allah. Sedangkan orang-orang mu’min hanya cinta dan amat sangat cinta kepada Allah Ta’ala semata.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 165)

Seseorang dikatakan telah menjadi ‘abduhu -hambanya ilah– jika ‘memenuhi syarat’ sebagai berikut.

  1. Menyertai kecintaan kepada sesuatu itu dengan kamalul mahabbah (kecintaan yang sempurna), sehingga segala ‘tuntutan cinta’ selalu siap dilaksanakannya. Siap berkorban, memberi loyalitas, taat dan patuh kepadanya.
  2. Menyertai kecintaan kepada sesuatu itu dengan kamalut tadzalul (perendahkan diri yang sempurna). Sehingga menganggap dirinya sendiri tidak berharga, lalu bersedia bersikap rendah serendah-rendahnya untuk pujaannya itu.
  3. Menyertai kecintaan kepada sesuatu itu dengan kamalul khudu’ (ketundukan atau kepatuhan yang sempurna). Sehingga akan selalu mendengar dan taat tanpa reserve, serta melaksanakan perintah-perintah yang menurutnya bersumber dari sang ilah.

Karena amat cintanya kepada berhala, orang-orang musyrik akan kesal jika yang disebut-sebut hanya nama Allah. Namun ketika nama berhalanya disebut, barulah ia merasa girang

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (QS. Az-Zumar, 39: 45)

Mereka demikian menghormati berhala-berhala sembahannya dan merasa marah apabila berhala-berhala tersebut dihinakan (lihat: QS. 71:23, QS. 21:59, 68).

Jadi, makna Al-Ilah sekurang-kurangnya mencakup empat makna.

  1. Al–Marghub, yaitu dzat yang senantiasa diharapkan.
  2. Al–Mahbub, yaitu dzat yang amat sangat dicintai
  3. Al–Matbu’, yaitu dzat yang selalu diikuti atau ditaati.
  4. Al–Marhub, yaitu dzat yang sangat ditakuti.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan makna al-ilah sebagai berikut,

هو الَّذِي يألَهُهُ القلبُ بكمالِ الْحُبِّ والتَّعظيمِ ، والإجْلالِ والإكْرامِ، والخوفِ والرَّجاءِ ، ونحوِ ذلكَ.

“Dia adalah sesuatu yang digandrungi hati dengan kecintaan yang sempurna, juga pengagungan, penghormatan, pemuliaan, cemas, harap, dan hal-hal yang secaman dengan itu.”[1]

Dengan kata lain, al-Ilah itu adalah al-ma’bud (yang disembah). Bagi mu’minin, al-ilah yang berhak disembah hanyalah Allah Ta’ala. Dialah shahibul wilayah (yang berhak mendapat loyalitas), shahibut tha’ah (yang berhak ditaati), dan shahibul hakimiyah (yang berhak menetapkan hukum).

Wallahu a’lam.

[1] Al-‘Ubudiyah, Ibnu Taimiyah, hal. 30, www.saaid.net

Selasa, 10 Juni 2025

Materi Tarbawi : Rasmul Bayan (Download)

 


DAFTAR ISI

Tentang Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah

KATA PENGANTAR

A. MAKNA SYAHADATAIN
B. MA’RIFATULLAH (Mengenal Allah)
C. MA’RIFATURRASUL (Mengenal Rasul)
D. MA’RIFATUL ISLAM (Mengenal Islam)
E. MA’RIFATUL INSAN (Mengenal Manusia)
F. MENGENAL AL-QUR’AN
G. GHAZWUL FIKRI
H. GOLONGAN SETAN
I. PROBLEMATIKA DAKWAH
J. AL-HAQ WA AL-BATHIL
K. TAKWINUL UMMAH
L. TARBIYAH ISLAMIYAH
M. FIQH DAKWAH

Download buku Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah.pdf (hasil Scan)

Senin, 09 Juni 2025

Materi Tarbawi : Madlulus Syahadah (Pengertian Syahadat)

Ilustrasi

 Ditinjau dari segi bahasa, kata ‘asy-syahadah’ sedikitnya mengandung tiga makna, yaitu:

Pertama, kata asy-syahadah dengan makna al-i’lan / al-iqrar (pernyataan),  diantaranya disebutkan dalam Al-Qur’an surat Ali Imran, 3 : 18,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Dengan makna seperti ini, maka seseorang yang mengucapkan syahadat, berarti ia telah menyatakan bahwa tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah.

Kedua, kata asy-syahadah dengan makna al-qasamu/al-halfu (sumpah), seperti disebutkan dalam firman Allah Ta’ala surat An-Nur ayat 6,

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلاَّ أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ

“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.”

Dengan makna seperti ini, maka seseorang yang mengucapkan syahadat, berarti ia telah bersumpah, bahwa tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Ketiga, kata asy-syahadah dengan makna al-‘ahdu/al-wa’du/al-mitsaq (perjanjian). Seperti disebutkan dalam firman Allah Ta’ala surat Al-A’raf ayat 172,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’”

Kalimat “wa asyhadahum” pada ayat di atas artinya adalah “mengambil kesaksian dari mereka” atau “mengambil perjanjian dari mereka”.  Maka, seorang yang mengucapkan syahadat, berarti ia telah berjanji kepada Allah Ta’ala untuk mentauhidkan-Nya (tiada tuhan selain Allah), demikian juga berjanji untuk mengakui dan mengikuti nabi Muhammad sebagai utusan Allah.

Jadi, asy-syahadah maknanya adalah pernyataan, sumpah, dan janji keimanan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

*****

Di dalam ajaran Islam, awal kesempurnaan atau sahnya al-iman (keimanan) adalah dengan iqrarun bil lisan (ikrar dengan lisan), tashdiqun bil qalbi (membenarkannya di dalam hati) dan ‘amalun bil arkan (mengamalkannya dengan anggota tubuh).

Berkenaan dengan hal ini, Al-Hasan al-Bashri berkata,

لَيْسَ الْإِيْمَانُ بِالتَّحَلِّي وَلَا باِلتَّمَنِّي وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَّقَتْهُ الْأَعْمَالُ

“Sesungguhnya iman bukanlah angan-angan atau pengakuan semata, namun iman adalah keyakinan yang tertancap dalam hati dan dibuktikan dengan amalan-amalan.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman [1/80])

Oleh karena itu, setiap muslim harus memiliki kesadaran bahwa syahadat ini adalah sebuah pernyataan, sumpah, dan janji keimanan kepada Allah Ta’ala. Maka sesuai dengan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, setelah menyatakan diri beriman kepada Allah Ta’ala, setiap kita harus berupaya untuk beristiqamah dalam keimanan itu.

عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

Dari Abu Amr, -ada juga yang mengatakan- Abu ‘Amrah, Suufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi radhiallahu anhu dia berkata, saya berkata, “Wahai Rasulullah katakan kepada saya tentang Islam sebuah perkataan yang tidak saya tanyakan kepada seorangpun selainmu”. Beliau bersabda, “Katakanlah, saya beriman kepada Allah, kemudian beristiqomah-lah”. (HR. Muslim)

Seorang mu’min yang istiqamah dalam keimanannya akan memperoleh kekuatan dari Allah Ta’ala; yakni tertanam di dalam jiwanya: asy-syaja’ah (keberanian), al-ithmi’nan (ketenangan), dan at-tafa-ul (optimisme).

Hal ini telah difirmankan oleh Allah Ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu’”. (QS. Al-Fushilat, 41: 30)

Kepada orang yang beriman dan berpendirian teguh dengan tidak mempersekutukan-Nya, Allah menurunkan malaikat yang menyampaikan kabar menggembirakan, memberikan segala yang bermanfaat, menolak kemudaratan, dan menghilangkan duka cita yang mungkin ada padanya dalam seluruh urusan duniawi maupun ukhrawi. Dengan demikian, dadanya menjadi lapang dan tenteram, tidak ada kekhawatiran pada diri mereka.[1]

Waki’ dan Ibnu Zaid berpendapat bahwa para malaikat memberikan berita gembira kepada orang-orang yang beriman pada tiga keadaan yaitu: ketika mati, di dalam kubur, dan di waktu kebangkitan.

Kepada orang-orang yang beriman itu para malaikat mengatakan agar mereka tidak usah khawatir menghadapi hari kebangkitan dan hari perhitungan nanti. Mereka juga tidak usah bersedih hati terhadap urusan dunia yang luput dari mereka seperti yang berhubungan dengan keluarga, anak, harta, dan sebagainya.

Maka orang-orang yang bersyahadat dengan benar, akan memperoleh as-sa’adah (kebahagian), di dunia dan akhirat. Wallahu A’lam.

Catatan Kaki:

[1] Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu, Jilid VIII, hal. 617


Copyright © 2024 PKS Batu Ampar All Rights Reserved.
back to top