Rijālud Da‘wah: Jejak Ruhani Para Penopang Umat
Apabila kita menelusuri perjalanan sejarah umat dan menelaah sosok-sosok besar yang pernah hidup di dalamnya, akan kita dapati satu titik temu yang menyatukan mereka semua. Mereka bukan sekadar manusia dengan kecerdasan akal yang menonjol, tetapi pribadi-pribadi yang dianugerahi kekuatan ruh (quwwatur-rūḥ) dan keteguhan hati (quwwatul-qalb).
Dengan dua kekuatan inilah seluruh potensi lain menjadi kokoh dan bermakna.
Benarlah ungkapan Bisyr Al-Khathib yang dikutip oleh Syaikh Ahmad Rasyid dalam salah satu karyanya:
“Cukuplah bagimu pelajaran dari orang-orang yang telah wafat; ketika kisah hidup mereka dipelajari, hati menjadi hidup. Dan sungguh, ada pula manusia-manusia yang masih hidup di sekeliling kita, namun dengan melihatnya hati justru menjadi mati.”
Ungkapan ini mengajarkan bahwa kehidupan sejati bukan diukur dari denyut nadi, melainkan dari cahaya yang ditinggalkan di dalam hati manusia.
Muhaddatsūn: Karunia Ilham bagi Orang-Orang Pilihan
Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits shahih menyebutkan tentang adanya golongan manusia yang dianugerahi ilham dan firasat yang benar. Beliau bersabda:
لَقَدْ كَانَ فِيمَا قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ، فَإِنْ يَكُ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ
“Sungguh pada umat-umat sebelum kalian terdapat orang-orang muhaddatsūn (yang diberi ilham). Jika di umatku ada salah satu dari mereka, maka ia adalah Umar.”
(HR. Al-Bukhari no. 3486)
Membaca sejarah Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu ‘anhu adalah membaca lembaran demi lembaran keajaiban ketaatan dan ketajaman firasat. Dengan izin Allah, beliau pernah “melihat” keadaan pasukan Sariyyah dari jarak ratusan bahkan ribuan mil, lalu berseru dari atas mimbar:
“Wahai Sariyyah, berlindunglah ke balik gunung!”
Seruan itu didengar dan ditaati, dan kemenangan pun diraih.
Dalam kesempatan lain, Umar pernah mengatakan dengan yakin:
“Barang siapa dari keturunanku kelak memiliki luka di wajahnya, ia akan memenuhi bumi dengan keadilan.”
Ucapan ini terbukti pada diri Umar bin Abdul Aziz, khalifah adil yang walau hanya memerintah dua tahun lima bulan, namun jejak keadilannya kekal hingga hari ini.
Ilham Para Ulama: Dari Umar hingga Imam Asy-Syafi‘i
Fenomena ilham tidak berhenti pada para sahabat. Dalam sejarah Islam, Imam Asy-Syafi‘i dikenal pula sebagai seorang yang memiliki firasat yang tajam. Menjelang wafatnya, beliau menyampaikan prediksi tentang masa depan murid-muridnya—dan seluruhnya terbukti satu per satu.
Ini menunjukkan bahwa Allah menganugerahkan cahaya petunjuk kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan bertakwa.
Hasan Al-Banna: Firasat Seorang Mujaddid Zaman
Pada era modern, salah satu tokoh yang—insya Allah—termasuk dalam deretan orang-orang yang mendapatkan ilham adalah Asy-Syahid Imam Hasan Al-Banna rahimahullah.
Dalam kisahnya bersama Sayyid Qutb, tampak jelas kejernihan pandangan dan keluasan hikmah beliau. Ketika sebagian orang bergegas ingin membantah tulisan Sayyid Qutb yang kontroversial, Imam Al-Banna justru memilih menjaga pintu taubat tetap terbuka.
Dengan ketenangan seorang murabbi sejati, beliau berkata kurang lebih:
“Ia masih muda. Tulisan itu bukan lahir dari fitrahnya, melainkan dari lingkungannya. Biarkan ia tumbuh. Boleh jadi suatu hari ia akan menjadi pemikul dakwah.”
Dan sejarah membuktikan: Sayyid Qutb akhirnya menjadi salah satu pilar pemikiran dakwah Islam dan Ikhwanul Muslimin.
Lingkungan yang Menumbuhkan Cahaya
Imam Hasan Al-Banna lahir pada tahun 1906 M di Al-Mahmudiyah, dari keluarga pencinta ilmu. Ayahnya, Syaikh Ahmad As-Sa‘ati, adalah seorang ulama dan ahli hadits. Sejak kecil, Al-Banna tumbuh dalam disiplin, kesederhanaan, dan kecintaan kepada Al-Qur’an—hingga menghafal hampir seluruhnya di usia muda.
Hidupnya tertata, waktunya terbagi dengan rapi antara belajar, bekerja, ibadah, dan dakwah. Semua itu adalah fondasi bagi lahirnya seorang pemimpin ruhani, bukan sekadar organisator.
Tazkiyatun Nafs dan Jejak Tarekat
Ketertarikan beliau pada Tarekat Al-Hashafiyyah bukanlah pelarian spiritual, melainkan bagian dari perjalanan tazkiyah. Dari tarekat ini, beliau belajar bahwa agama bukan sekadar ritual, melainkan keberanian menegakkan kebenaran di hadapan kekuasaan.
Syaikh Abdul Wahhab Al-Hashafi bahkan pernah berkata kepada Hasan Al-Banna:
“Aku melihat Allah akan menghimpun hati manusia kepadamu. Ketahuilah, kelak engkau akan dimintai pertanggungjawaban atas waktu mereka.”
Kalimat ini menjadi nubuat tentang amanah besar yang kelak ia emban.
Ahlul Hajb: Pemimpin yang Menyembunyikan Keajaiban
Syaikh Thanthawi Jauhari, ulama besar Al-Azhar, menyebut Hasan Al-Banna sebagai ahlul hajb—pemimpin yang tidak menampakkan karamah luar biasa, tetapi justru membentuk manusia dan membangunkan umat.
“Mereka inilah orang-orang yang dipilih Allah untuk menghidupkan iman, memerangi kezaliman, dan menyatukan hati kaum beriman.”
Bagi Syaikh Thanthawi, Hasan Al-Banna bukan sekadar dai, tetapi arsitek kebangkitan umat.
Akhir Sebuah Kisah, Awal Sebuah Pertanyaan
Imam Hasan Al-Banna telah gugur sebagai syahid. Hingga hari ini, belum muncul sosok yang sepenuhnya menyamai perannya. Namun keyakinan kita tidak boleh goyah, karena:
إِنَّ لِكُلِّ مَرْحَلَةٍ رِجَالَهَا
“Setiap fase kehidupan memiliki para tokohnya.”
Dahulu ada kemurtadan, dan Allah menghadirkan Abu Bakar.
Dahulu ada keterpurukan umat, dan Allah menghadirkan Hasan Al-Banna.
Kini, umat kembali terluka.
Lalu pertanyaannya bukan sekadar:
“Di mana Hasan Al-Banna hari ini?”
Melainkan:
“Apakah kita sedang mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari rijāl pada marhalah ini?”
